Jumat , Februari 23 2018
Home / Opini / “Heman ka Budak”, Obsesi dan Harapan

“Heman ka Budak”, Obsesi dan Harapan

Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan
Setelah merintis dengan 2 kali kegiatan eksperimen pada hari Minggu sebelumnya, bekerja sama dengan sanggar lokananta, kami merasa event ini sangat baik untuk dikembangkan sebagai titik pusat pusaran kegiatan pemulyaan kebudayaan sebagai salah satu upaya untuk mempertahankan nilai nilai luhur budaya yang bermanfaat secara religius dan historis untuk mendukung tetap kokohnya empat pilar kebanggsaan yaitu :  Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Undang–Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Event ini ke depan diharapkan dapat menjadi wadah untuk semua kegiatan kebudayaan (khususnya kesenian) yang dilakukan oleh para siswa dan masyarakat. Animo untuk berperan serta, ternyata sangat luar biasa.

Kembali bersandingnya bidang kebudayaan dengan bidang pendidikan tentu merupakan hasil pertimbangan matang sekaligus sebagai koreksi atas kebijakan sebelumnya. Pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan yang mampu memainkan peran sebagai ruh dari penyelenggaraan semua kegiatan pendidikan : mengajar, mendidik, melatih, membimbing dan membina.

Pendidikan Mungkin bisa membuat siswa pinter, tapi penanaman nilai-nilai budaya akan mampu membuat anak menjadi; cageur, baheur, bener tur singer serta membimbing mereka untuk menjalani hidupnya dengan silih asah , silih asih dan silih asuh.

Kehadiran bidang kehudayaan, tidak akan membuat dunia pendidikan bebannya menjadi lebih berat.
Kehadiran bidang kebudayaan tidak membuat beban guru menjadi lebih berat, Kehadiran kebudayaan tidak akan makin menjauhkan guru dari anak-anak. Kehadiran kehudayaan justru akan membuat semua interaksi dalam kegiatan pendidikan menjadi lehih indah dan bergairah.

Katanya: ilmu akan membuat hidup jadi mudah, agama akan membuat hidup jadi berkah, dan budaya(baca: seni) akan membuat hidup jadi indah, karena melalaui pendekatan kebudayaan, siswa tidak cuma hanya pintar calistung. Tapi siswa juga tumbuh seiring perkembangan pemahaman tentang etika, estetika dan kinestetika yang akan berperan besar dalam kehidupannya kelak.

Tidak akan ada lagi berita -berita tentang kekerasan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Siswa dan wali siswa sangat hormat dan percaya kepada guru. Guru senantiasa melaksanakan tugasnya penuh rasa tanggungjawab dan cinta.

Melalui kegiatan “Heman ka Budak” ini, semoga Kuningan ke depan punya ikon baru yang akan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan selain gedung naskah, ikan dewa dan sejuknya hawa yaitu sebuah event budaya yang menampilkan berbagai atraksi budaya yang dilakukan masyarakat secara sukarela karena kecintaannya terhadap budaya.

Kegiatan CFD nanti malah bisa jadi banyak dihadiri oleh wisatawan dari luar kota yang sengaja ingin berbaur dengan masyarakat menikmati kesejukan hawa, olahbraga dan menikmati event budaya khas kota kuda.
Apalagi ke depan kalau event ini semakin besar,bisa mengajak masyarakat Kuningan ber-cfd-nya mengenakan busana tradisional sunda, kampret dan iket. Luar biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *